Senin, 15 September 2014

Dieng Plateau, Pesona Negeri di Atas Awan

Dieng Plateau adalah objek wisata unggulan kedua di Jawa Tengah. Mumpung saya masih di Yogyakarta, maka Agustus lalu saya dan teman-teman tertarik untuk mengunjungi dataran tinggi ini. Sebelumnya kami sudah prepare logistik makanan, pakaian hangat, syal, sarung tangan, kaos kaki, dan senter untuk penerangan. Tidak lupa kamera untuk mengabadikan momen-momen gila nantinya.. hihihi. Karena tidak berencana menginap, kami sudah menyusun rencana perjalanan (itinerary) yang diawali dengan mengejar sunrise di Gunung Sikunir.

a. Mengejar Sunrise di Puncak Gunung Sikunir

Saya dan 6 orang teman lainnya berangkat dari Yogyakarta pukul 10 malam dengan mobil pribadi. Mobil melaju dengan santai. Perjalanan Jogja menuju Wonosobo akan ditempuh sekitar 4 jam dan kami memilih jalur Magelang. Jam 2 pagi hawa dingin mulai terasa. Sepertinya kami sudah sampai di daerah dataran tinggi, Desa Sembungan, 2.350 m dpl. Jalan sudah mulai mendaki. Medan menuju kawasan sunrise di Puncak Sikunir terbilang penuh tantangan karena jalannya yang berbelok-belok dan sempit, hanya cukup buat 1 mobil. Selain itu di sisi jalan ada jurang yang curam dan di sisi lainnya terdapat bukit berbatuan. Suasanan ini ditambah dengan tidak adanya lampu jalan. What a life!! XD

Jam 3 pagi akhirnya kami sampai di parkiran menuju lokasi trekking. Karena perjalanan yang cukup aduhai alamak, kami tepar dan ketiduran di mobil sampe pukul 4 pagi. Setelah makan dan minum secukupnya, kami keluar menghirup udara Dieng. Subhanallah segarnyaa... Ditambah bau pohon basah yang menyamankan indera penciuman saya. Perfect!! Rasa dingin karena suhu Dieng yang mencapai minus sekian derajat celcius menjadi tertutupi.

Ternyata trekking menuju puncak Sikunir cukup (lebih dari cukup maybe) menguras energi dan lemak-lemak di tubuh, keringetan, dan bikin napas ngos-ngosan mampus. Untung aja belakangan ini saya sering jogging di GSP, jadi ga kalah kuat ama temen-temen lain. Setelah sempat 3 kali istirahat di perjalanan, akhirnya jam 5 pagi kami sampai di Puncak Sikunir. Kami merasa seperti 'dewa-dewi' yang berdiri di atas awan.. Hahaha.. Kabut menyelimuti puncak, hawa dingin langsung menusuk tulang, saya terus bergerak ke sana sini agar tidak membeku. Brrrrr....

Akhirnya semburat jingga terlihat muncul malu-malu... Walaupun sebentar karena banyaknya kabut, tapi saya merasa sangat beruntung karena bisa menikmati munculnya sang Surya dari salah satu spot terbaik di dunia :D. Setelah puas foto-foto dan menikmati alam ciptaan Tuhan yang begitu mempesona, kami turun gunung dengan santai disertai gelak tawa. Sekitar jam 6 pagi kami sampai di halaman parkir mobil dan meluncur menuju telaga warna.

Sunrise dari puncak sikunir

Perjalanan menuruni puncak
lereng puncak sikunir


b. Telaga Warna

Perjalanan menuju telaga warna ditempuh selama lebih kurang 15 menit. Sampai di sana, kami disambut dengan suasana telaga yang tenang dan bau belerang yang semerbak. Salah seorang teman sampai muntah-muntah dan memutuskan istirahat di mobil. Telaga warna memiliki keunikan berupa warna permukaan berubah-ubah dari  hijau, kebiruan, dan putih yang merupakan refleksi endapan belerang di dalamnya. Ketika sampai di pinggir telaga, perbedaan warna telaga belum begitu tampak sehingga kami memutuskan mencari spot terbaik untuk melihat telaga secara keseluruhan. Setelah keliling muter-muter akhirnya kami menemukan jalan trekking menuju Bukit Ratapan. Kabarnya ini adalah gardu pandang terbaik untuk melihat pesona telaga warna.

Perjalanan trekking memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah ngos-ngosan setengah mati, Eng ing eng... apakah kami sedang berada di surga??? Sungguh pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Kali ini 'dewa-dewi' sedang menikmati pemandangan luar biasa di atas bukit. Pesona telaga warna-warni dikelilingi oleh hutan dan bukit yang masih asri. Udara yang sejuk disertai awan putih menambah syahdu suasana.

telaga warna dari bukit ratapan
telaga warna

c. Candi Arjuna

Setelah kenyang berfoto dan menjadi 'dewa-dewi' sehari (HAHAHA) kami turun bukit dan melanjutkan perjalanan menuju wisata sejarah. YUP, candi arjuna!! lokasinya tidak begitu jauh, 5 menit menggunakan kendaraan bermotor. Candi ini adalah bangunan batu peninggalan Hindu Syiwa ratusan tahun yang lalu yang konon dibangun atas perintah raja-raja dari Wangga Sanjaya. Komplek candi tidak seluas komplek candi Prambanan, begitupun dengan ukuran candi yang relatif mungil. Kelebihannya adalah suasana yang sejuk, dengan hamparan rumput hijau dan latar belakang bukit yang indah.

candi arjuna

d. Mie Ongklok

Puas menikmati sisa-sisa peradaban masa lalu, perut mulai terasa lapar. Akhirnya kami meluncur menuju tempat makan mie ongklok. Mie ongklok adalah mie khas yang cuma bisa ditemui di Dieng Plateau. Terdiri dari mie kuning bersama sayur kubis dan kucai mentah yang dimasukkan ke dalam semacam saringan dari bambu dan di"ongklok-ongklok" atau dicelupkan berkali-kali ke dalam air mendidih. Mie dan sayuran ditata dalam mangkuk dan disiram dengan kuah khas yang kental berwarna kecoklatan. Kurang lengkap rasanya menyantap mie ongklok tanpa sate ayam dengan kuah kacang.. NYAM NYAM..

mie ongklok
Mie ongklok panas dan teh panas langsung masuk mulut dan perut tanpa ditiup sedikitpun _Saking dinginnya suhu dataran tinggi ini. Selang beberapa menit, mie ongklok dan sate langsung habis bis! haha itu laper apa kalap coy?? Watever yang pasti rasanya enak dan beda dengan mie-mie lainnya. Porsinya juga pas. Siangnya setelah azan zuhur kami meluncur pulang ke Yogyakarta dengan senyum terkembang membawa pengalaman yang sangat istimewa, Sungguh perjalanan yang luar biasa... :D

TIPS
  1. Karena suhu di Dieng yang sangat dingin, jangan pernah ke sana tanpa menggunakan pakaian berlapis-lapis dan jaket hangat serta sarung tangan.
  2. Jika belum pernah ke Dieng, sebaiknya gunakan jasa tour guide biar tidak nyasar kemana-mana.
  3. Waktu terbaik melihat sunrise dari Puncak Sikunir adalah musim kemarau (Juli - Agustus) saat langit jernih dan jarang turun hujan.
  4. Jika ingin trekking, sebaiknya tubuh dalam kondisi fit disertai makan dan tidur yang cukup serta olahraga teratur sebelum berangkat.
  5. Jangan lupa berdoa :D

Selasa, 19 Agustus 2014

One Day Tour Yogyakarta: Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, dan Pantai Parangtritis

Minggu ini senang sekali. Selain saya mau wisuda kelulusan dari UGM, keluarga saya datang berkunjung ke Kota Istimewa ini: Yogyakarta. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, saya langsung bikin itinerary jalan-jalan (dasar otaknya jalan mulu, hehe). Kali ini saya mau cerita one day tour Jogja kami di hari ketiga setelah acara wisuda saya. Jadwal hari itu adalah mengunjungi Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, dan Alun-Alun Kidul.

Jam 8 pagi setelah sarapan di penginapan, kami langsung meluncur ke prambanan menggunakan mobil rental plus supir, jadi dijamin tidak nyasar :D. Waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat kota. Jalan tidak begitu macet karena masih pagi. Sampai di Kawasan Prambanan, kami langsung beli tiket paket ke Candi Prambanan sekalian ke keraton ratu boko, HTM nya rp 45.000/orang. Kami memilih ke keraton ratu boko dulu baru ke candi prambanan. Jadi pas masuk kawasan prambanan, langsung ke sebelah kiri menuju shelter minibus wisata menuju keraton ratu boko. Perjalanan menuju daerah dataran tinggi 196 meter dari permukaan laut ini ditempuh sekitar 20 menit.

Keraton ratu boko adalah kompleks istana megah yang dibangun pada abad ke-8 oleh salah satu kerabat pendiri Borobudur. Keraton ini awalnya bernama Abhayagiri Vihara (biara di bukit yang penuh kedamaian) dibangun untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Pemandangan di sini sungguh indah, padang rumput hijau, dengan latar langit biru dan awan putih. pada musim panas, rumputnya berubah jadi kekuningan karena panasnya matahari. Dari sini kita bisa melihat kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar gunung merapi. Spot terbaik adalah di halaman Restoran Ratu boko di dekat shelter.

Kawasan keraton ini cukup luas, sekitar 250.000 meter persegi. Wajarlah ya, kaki pegel-pegel kalau mau muterin semuanya. Terbagi menjadi empat bagian: tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, candi pembakaran, kolam, batu berumpak, dan paseban. Bagian tenggara meliputi pendopo, balai-balai, 3 candi, kolam, dan kompleks keputren. Bagian timur adalah kompleks gua, stupa buddha, dan kolam. Bagian barat hanya terdiri dari perbukitan. Saya dan keluarga cuma sempat muterin bagian tengah dan tenggara karena ga sanggup jalan lagi dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Nyiapin energi buat muterin prambanan yang tidak kalah luas. Saatnya kembali ke Prambanan.



Kami menuju prambanan menaiki minibus yang selalu tersedia di shelter depan pintu masuk keraton ratu boko. Sampai di kawasan prambanan, kami langsung mengunjungi candi hindu yang dibangun pada abad ke -10 ini. Candi Prambanan memiliki 3 candi utama yang menghadap ke timur, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi ini adalah lambing trimurti dalam kepercayaan hindu. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu.

Seperti biasa sebelum memasuki kawasan suci ini seluruh pengunjung perlu memakai sarung batik yang sudah tersedia. Selain candi-candi, di kawasan prambanan juga terdapat beberapa museum dan taman dolanan untuk bermain anak. Ada sepeda wisata untuk berkeliling kompleks. Selain itu ada taman rusa juga lo.. Setelah hampir 2 jam mengelilingi lokasi wisata yang sangat bersih ini, perut kami mulai lapar. Saatnya meluncur keluar menuju tempat makan.




Kali ini saya mau ajak keluarga ke restoran Sendang Ayu, lokasinya di jl. Adi Sucipto. Khasnya restoran ini adalah halamannya yang luas dan memiliki kolam ikan yang besar. Untuk mencapai tempat makan, kami harus menyeberangi kolam menggunakan perahu khusus. Tentu saja makanan khasnya adalah ikan bakar. Selamat Makan…. Enak dan nyaman, reccomended buat kumpul keluarga!!



Setelah makan dan solat di musola resto sendang ayu, kami memutuskan untuk mengejar sunset di pantai parangtritis. Agak nekat sih, soalnya udah jam 4 sore dan waktu tempuh ke pantai parantritis sekitar 2 jam. Namun karena tekad sudah bulat, akhirnya maju terus pantang mundur.. Beruntung jam setengah enam-an kami sampai di pantainya nyi roro kidul ini. Thanks God!! Sunset di parangtritis adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Matahari yang pelan-pelan bersembunyi di balik awan dan menghilang di garis laut, ditemani deburan ombak yang cukup besar. Romantis..


Kami melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja setelah solat magrib di masjid. Saya mau mengajak keluarga menikmati suasana khas di alun-alun kidul. Di sini kami bisa menikmati jajanan seperti gudeg dan wedang ronde. Pengunjung juga dapat menggunakan sepeda yang penuh lampu warna-warni mengelilingi alun-alun kebanggaan warga Jogja ini. Sepeda ini ada yang roda dua dan roda empat menyerupai becak. Selain hiasan kelap-kelip lampunya yang warna-warni, full music juga lo.. cukup bayar sekitaran rp 20.000 untuk satu kali putaran. Gowes-gowes malam hari nih ceritanya… a.k.a olahraga malam :D


Wisata hari ini sungguh menyenangkan. Selain bisa menghabiskan waktu bersama orang tersayang, wisata jogja memang tidak ada matinya. Mereka mampu menonjolkan keunikan budaya, kebersihan, dan keramahan masyarakatnya.

Tips:
  1. Sebaiknya mengunjungi prambanan dan ratuboko pada pagi hari, biar puas menjelajahi kedua objek wisata yang luas ini 
  2. Jangan lupa bawa topi dan payung, karena panas banget, apalagi kawasan ratuboko di siang hari 
  3. Sebaiknya tubuh dalam kondisi fit karena perjalanan di sekitaran prambanan dan ratuboko sangat panjang dan harus ditempuh dengan jalan kaki 
  4. Berpakaian yang sopan dan wajar karena mengunjungi tempat suci 
  5. Waktu terbaik mengunjungi parangtritis adalah pada siang hari (jika ingin bermain aneka wahana pantai) dan sore hari (jika ingin melihat sunset)

One Day Tour Yogyakarta: Pantai Indrayanti dan Bakpia Kurnia Sari

Masih dalam rangka menyambut kedatangan keluarga tercinta tersayang dan tersegalanya di Jogja, saya mau jalan lagi nih. Kali ini ke pantai kawasan Gunung Kidul yang terkenal dengan pasir putih dan batu karang yang menawan. Jam 8 kami sudah mulai jalan dari hotel, saya sengaja ajakin keluarga sarapan di tempat sarapan favorit saya, namanya Warung Flamboyan. Lokasinya di jl. Flamboyan, sekitaran Fakultas Teknik UNY. Penyajian makanannya prasmanan dengan menu yang sangat komplit-plit!! Ada nasi merah dan aneka sayuran sehat, hingga lauk pauk khas nusantara. Favorit saya adalah nasi merah dan brokoli. Suasananya cukup cozy dengan iringan alunan musik.



Setelah kenyang, kami langsung on the way ke Gunung Kidul. Alamaak jalanan macetnya ampun, ternyata ada perbaikan jalan sehingga yang sebelumnya dua jalur sekarang cuma bisa 1 jalur. Perjalanan yang biasanya 2 jam molor jadi 3 jam. Jam 12 kami sampai Pantai Indrayanti, salah satu pantai andalan di Gunung Kidul. Bapak supir kami jago juga memilih tempat yang nyaman dan private, dekat resort yang memiliki banyak pondok gazebo untuk bersantai, cukup bayar rp 25.000 per pondok. Kami bisa tidur-tiduran santai menikmati deburan ombak disertai langit biru dan awan putih. Subhanallah.. Sayang rasanya tidak mengebadikan momen istimewa ini. Let’s Pose!!


Ternyata di dekat sini ada gardu pandang, kami cukup naik tangga menuju bukit dengan tinggi sekitar 3 meter, dari sana kami bisa melihat pantai yang terbantang luas… Sungguh menawan!! Di bukit ini juga menyediakan pondok untuk beristirahat dan taman mungil beserta jembatan yang sangat sayang kalau tidak digunakan buat foto-foto, hehe. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Mari kita pulang.. Perjalanan ke Jogja ditempuh sekitar 2 jam. Alhamdulillah tidak macet lagi.


Jam 6 sore kami sampai Jogja, langsung menuju pusat oleh-oleh. Saya mengajak keluarga ke pusat oleh-oleh Bakpia Kurnia Sari. Namanya mungkin agak asing tidak sepopuler bakpia pathok 125 dan semacamnya. Namun soal rasa bisa diadu, kulitnya lebih tipis namun lembut, diameter lebih besar, dan isinya terasa asli keju/kacang ijo/cokelat dll. Bener-bener lezatos. Favorit saya adalah isi keju, awetnya sekitar 1 minggu. Harganya lebih mahal dari bakpia biasanya, isi 15 rp 28.500 dan isi 20 rp 38.000. Lokasinya di Pogung lor, ring road utara.


Wisata hari ini diakhiri dengan makan malam di warung favorit saya dengan ciri khas sambel yang almost puedes, Warung Spesial Sambel (SS) Jogja :D. Favorit saya adalah jamur tiram crispy. Puas sekali hari ini jalan-jalan menikmati keindahan alam bersama keluarga tercinta. Reccomended buat yang mau jalan-jalan bersama keluarga.
Tips:
  1. Sebaiknya ke pantai indrayanti tidak waktu weekend, almost full
  2. Waktu terbaik mengunjungi pantai gunung kidul adalah pas pagi dan siang hari waktu langit biru
  3. Jangan lupa bawa topi, kacamata, dan pakaian yang ringan dan berwarna cerah ya..

Sabtu, 09 Agustus 2014

Rumah Cokelat, Surganya Pecinta Cokelat

Malam ini saya dan partner kuliner saya pengen menikmati cokelat di tempat yang cozy, pilihan jatuh di Rumah Cokelat. Tempatnya di barat RS Panti Rapih, tidak terlalu jauh dari gerbang utama UGM. Tempatnya emang seperti rumah, satu lantai, cozy, dan free wifi. Dari luar aja udah keliatan kalo tempat ini recommended, hehe

Kami memilih tempat di dalam ruangan dengan kursi sofa. Alunan musiknya easy listening menyamankan telinga. Dalam ruangan adalah non smoking area, pakai AC dan ada tv kabel juga. Sementara dihalaman luar ada smoking area yang beratapkan kanopi di tiap meja. Menu pesanan kami adalah lava cake (14,5 K) dan Belgian hot chocolate (17 K). Kami sengaja ga pesan makanan snack maupun pastry, ceritanya lagi diet gitu, hehehe. Setelah menunggu beberapa saat, pesanan datang. Mari kita coba..



Lava cake adalah cake yang ketika dipotong, ada cokelat cair yang langsung meleleh bak larva yang keluar dari mulut gunung, lumer di mulut. Lava cake ini ditemani satu potong es krim cokelat, chery, dan taburan kacang mede. Sangat Chic!! Belgian hot chocolate juga tidak kalah seksi, sendok pengaduknya adalah cokelat batangan. Jadi ketika dimasukin dalam cokelat panas, langsung meleleh di dalam gelas. Sebelum diminum, jangan lupa dinikmati dulu aroma cokelat panasnya. Sensasi yang tak terlupakan adalah pahit dan manis khas cokelat belgia yang nikmat banget pas nyampe tenggorokan. Wajib buat kalian coba!!

Selain menyediakan menu bertema cokelat, di sini juga menjual cokelat buat oleh-oleh seperti chocodot (25 K) yang terkenal dengan produk cokelat dengan nama yang unik. Kali ini saya beli cokelat ‘Enteng Jodoh’ biar enteng jodoh juga habis makannya. HAHAHAHA. Setelah puas nongki-nongki dan menikmati cokelat berkualitas wahid ini, kami pulang dengan senyum terkembang. :D

Rate:
Rumah Cokelat : 4,5/5
Lava Cake : 3,8/5
Belgian Chocolate : 4/5

Sabtu, 14 Juni 2014

Pattaya Resto, Santapan Thailand di Yogyakarta

Malam ini, saya dan partner kuliner saya ingin menyantap makanan khas negara tetangga, yaitu Thailand. Kebetulan ada resto yang baru buka di jakal km 6,5, tidak jauh dari kampus UGM, Namanya Pattaya, tempatnya ruko 2 lantai semi pujasera dengan sop doren lodaya dan dimsum jogja. Siangnya kami sudah mencoba sop doren lodaya, namun rasanya kurang cocok dengan lidah saya.

Oke sesampainya di sana kami langsung duduk di tempat yang cukup strategis di lantai dua. Dari tempat ini kami bisa menikmati pemandangan jalanan kaliurang yang penuh lampu. tempatnya cukup nyaman dengan desan minimalis. Alunan musik easy listening menambah poin untuk resto pattaya. Kali ini saya dan teman saya memesan nasi putih, tom yam seafood, ayam lada hitam, dan thai tea sebagai minuman. Beruntungnya kami yang mengunjungi resto ketika masa promosi, pemesanan minimal dua makanan thailand, gratis 1 porsi roti naam plain. Yipppiee :D

Pemandangan Jakal dari Pattaya Resto
Setelah menunggu tidak terlalu lama, akhirnya pesanan kami datang, mari makaannn... Cita rasa thainya sangat tampak, sedap gurih. Aroma khas serai pada kuah tomyam bikin saya seperti berada di negeri gajah putih ini. Namun sayang jumlah seafoodnya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan harga tomyam yang relatif mahal. Ayam lada hitamnya juga menyajikan cita rasa thailand yang penuh rempah, ditambah sayur capcay favorit saya. Santapan ini semakin lengkap dengan thai tea yang langsung diseduh dari daun teh asli, wangi dan nikmat... :9

tomyam seafood (bawah), ayam goreng lada hitam (atas)

roti naam
Makan-makan kali ini kami akhiri dengan menyantap roti naam rasa plain, Rasanya seperti roti canai tetapi sedikit empuk. Perbedaannya pada tampilan yang bulat dan dipotong rapi seperti pizza serta tambahan saos cocolan. Saos ini menjadi daya tarik karena rasa manisnya pas seperti fla kue sus versi encer. Ghost!! Malam ini lidah saya bener-bener dimanja :D. Tak terasa kami sudah satu jam lebih nongkrong di sini, saatnya pulang dan tidur, hehehee. Well, tempat yang cukup reccomended buat pecinta thai food.

Rate: 4/5