Kamis, 27 November 2014

Nasi Goreng Cumi vs Nasi Goreng Udang

Dalam dua minggu ini, saya mencicipi dua nasi goreng yang belum pernah saya coba sebelumnya. Kebetulan sekali keduanya adalah nasi goreng seafood, pertama khusus udang, dan satu lagi cumi. Nasi goreng udang alias nasi goreng seafood (nama menunya) saya coba di Resto Pelangi, Jl. Ratulangi, Makassar. Sementara nasi goreng cumi alias nasi goreng canggi (nama menunya) saya coba di Resto Goldena, Jl. Permindo, Padang. Jika dilihat dari segi lokasi dan tampilan resto, keduanya cukup strategis dan ramai dikunjungi pembeli. Suasananya sama-sama sederhana, tidak ada alunan musik. Sepertinya benar-benar mengandalkan cita rasa dan loyalitas pembeli.

Nah, berikut tampilan nasi goreng udang alias nasi goreng seafood ala resto pelangi: Warnanya merah merekah!! HEHE. Baru kali ini liat nasi goreng semerah itu, berasal dari warna saos sambel, dan tanpa kecap. Mungkin di Makassar sudah biasa kali ya. Plattingnya sangat sederhana, nasi goreng dikasi telor ceplok di atasnya, si udang keliatan malu-malu diantara nasi. Waktunya makan.. HAP! Wow rasanya enak juga, tapi saya tidak tau nasi gorengnya pakai bumbu apa, karena tidak ditemukan irisan bawang merah, bawang putih, maupun daun bawang di nasi gorengnya. Sepertinya bumbu rahasia. :D Udangnya segar dan lembut, menyatu dengan bumbu nasi goreng, mungkin karena restonya tidak terlalu jauh dari pantai.

nasi goreng udang alias nasi goreng seafood
Kemarin saya mencoba nasi goreng cumi alias nasi goreng canggi ala Resto Goldena, dari segi tampilan, yang ini lebih menggoda menurut saya. Warna nasi gorengnya standar nasi goreng kebanyakan, yang menarik adalah telur yang dipakai adalah telur puyuh, kemudian diberi daun selada, irisan tomat, bakso, ayam suwir, dan kerupuk. Tidak lupa cumi yang udah tercampur rata dengan nasi goreng. Lebih meriah ketimbang nasi goreng udang. Bikin pengen segera melahapnya. Waktunya makan.. NYaamm.. Hmm menurut saya rasanya biasa aja sih, standar. Sambelnya juga kurang matching dipadankan dengan nasi goreng, lebih cocok untuk sambel soto. Dari segi cita rasa sepertinya nasi goreng udang lebih unggul.

Nasi goreng cumi alias nasi goreng canggi
Jika dilihat dari segi porsi, hampir sama, sama-sama porsi jumbo, hehe. Walaupun dari cita rasa nasi goreng udang lebih unggul, Namun dari segi harga, nasi goreng udang rp 24.000, lebih mahal daripada nasi goreng cumi rp 16.000. Harga yang pantas untuk cita rasa yang ditawarkan. Selamat mencoba. :)

Rate:
Nasi Goreng Seafood alias udang: 4/5
Nasi Goreng Canggi alias cumi: 3/5

Minggu, 23 November 2014

Kuliner Daging Penuh Rempah ala Makassar

Kali ini saya berkesempatan lagi mengunjungi Kota Daeng di Selatan Pulau Sulawesi, yaitu Kota Makassar. Selain terkenal dengan pantai losari, kota ini memiliki kuliner yang populer di Indonesia, terutama yang berbahan dasar daging-dagingan seperti coto, konro, dll. Sebagian besar kuliner ini dimakan dengan sambal khas makasar yang berwarna oranye, sambal rawit, dan perasan air jeruk nipis.
sambal khas makassar
Agar tidak membuat hipertensi, menambah kolesterol dan lemak ditubuh, sebaiknya makan kuliner ini cukup satu porsi dan diimbangi dengan olahraga teratur. Selama beberapa hari ini saya ditemani teman saya yang anak Makassar mencoba menjajal kulineran paling lezat dan top di Kota ini. Bagi pecinta kuliner, yuk intip ulasannya.

1. Coto Makassar

Kalau ke Makassar kurang lengkap rasanya tanpa mencicipi coto makassar. Coto ini adalah makanan berkuah yang berisi irisan daging sapi/kerbau serta jeroannya (optional). Istimewanya coto adalah bumbu kuah kaldu yang gurih penuh dengan rempah seperti ketumbar, jintan, merica, bawang putih, serai, lengkuas, daun salam, dan kacang tanah yang dihaluskan. Keistimewaan lain adalah daging coto yang direbus dengan air beras sehingga daging terasa nikmat dan empuk.

Ada dua tempat coto favorit yang sempat saya kunjungi, yaitu Coto Parraikatte dekat kampus Unhas, dan Coto Gagak di jl.gagak. Suasana tempat makan di coto gagak lebih nyaman ketimbang coto parraikatte, namun soal rasa bisa diadu. Cita rasa kedua coto relatif sama enaknya, apalagi setelah ditaburi irisan seledri dan bawang goreng, tidak lupa sedikit perasan jeruk nipis, beuh!! Perbedaan lain adalah  masing-masing memiliki aroma yang khas. Kalau diperhatikan, kuah coto gagak berwarna sedikit lebih cokelat ketimbang coto parraikate.

coto makassar parraikatte dengan buras

coto makassar gagak dengan ketupat
Sebagai penyuka sambel, saya selalu menambah sambal oranye serta sedikit kecap pada mangkuk saya. Sangat cocok dimakan panas-panas pas cuaca dingin. NYUMMY.. Coto akan lebih nikmat jika dimakan dengan ketupat dan buras. Buras adalah olahan beras yang dimasak bersama air santan dan dibungkus daun pisang. Kebayangkan nikmatnya buras dicampur dengan kuah coto? gurih-gurih mantap. HEHEHE. Namun sayang saat mengunjungi coto gagak saya tidak menemukan buras. Tak mengapa karena masih ada ketupat dan citarasa kuah yang mantap membuat saya melahap kuah coto hingga tetes terakhir XD.

Rate:
Coto Parraikatte: 3,8/5
Coto Gagak: 4/5

2. Pallu basa

Pallu basa berasal dari kata pallu yang berarti makanan dan basa yang berarti basah, jadi pallu basa adalah makanan yang berkuah. Tampilannya tidak jauh beda dengan coto, irisan daging sapi dan jeroan yang disiram kuah kaldu penuh rempah. Dimakan dengan sambel khas makassar, kecap (optional) dan tentunya sedikit air jeruk nipis. Rasanya sedikit berbeda karena perbedaan takaran bumbu yang diberikan. Selain itu warna kuah pallu basa sedikit lebih kuning ketimbang coto yang agak cokelat.

Kali ini saya mencicipi pallu basa di pinggir jalan perintis menuju kabupaten maros. Hal menarik pada menu ini adalah pallu basa dimakan dengan taburan parutan kelapa yang sudah disangrai. Pertama mencicipi, lidah saya langsung bergoyang, perpaduan rasa gurih yang sempurna!! Namun sayang rasa dagingnya tidak senikmat daging coto yang saya makan sebelumnya. Selain cita rasa, perbedaan pallu basa dan coto adalah partner makannya. Berbeda dengan coto yang dimakan dengan ketupat, pallu basa biasa dimakan dengan nasi, seperti partner makan soto-soto yang tersebar di nusantara.
Rate: 3/5

3. Konro Bakar

Malam terakhir sebelum pulang ke Padang, saya diajakin makan konro bakar. Konro artinya tulang, kebanyakan yang diolah adalah tulang iga yang terkenal kelezatannya. Setelah hujan reda kami menuju tempat makan konro bakar paling hits, konro karebosi. Di sekitaran tempat ini banyak sekali warung-warung yang menjual konro, teman saya memilih tempat yang (katanya) memiliki konro paling Mak nyoss.

Suasana tempat makan konro karebosi relatif nyaman dengan fasilitas dua lantai, pelayannya juga cukup ramah. Setelah makanan tersaji di meja, aroma rempah khas Indonesia langsung tercium, tampilannya sangat menarik, daging iga yang dibakar dengan bumbu-bumbu rempah kemudian disiram kuah kacang. Kali ini kami juga pesan kuah sop konro karena menurut teman saya perpaduan dua menu ini menghasilkan citarasa yang joss. Setelah menunggu agak lama, akhirnya pesanan datang.
konro bakar, sup konro, dan nasi putih

konro bakar karebosi
Sebelum makan, saya menambahkan sambel oranye, kecap, dan air perasaan jeruk nipis pada konro saya. Pertama mencicipi, daging iganya sangat empuk dan bumbunya terasa sampai ke daging. Kuah kacangnya sangat pas di lidah saya, ketika konro dimakan dengan nasi dan kuah sop, Nyaamm... ini adalah salah satu makanan terenak yang pernah saya coba. Entah laper atau karena habis hujan atau emang bener-bener enak, mulut saya tak berhenti berkunyah hingga konro ludes di piring XD.

Rate: 4/5

4. Mie Titi

Mie Titi adalah kuliner khas makassar dengan bahan dasar mie kuning yang telah direbus dan digoreng kering kemudian disiram dengan kuah kental. Dagingnya dimana? Nah dagingnya ini ditemukan pada campuran kuah kental berbahan dasar tepung maizena ini. Kebanyakan yang dipakai adalah daging ayam yang diiris-iris. Campuran lain adalah udang, bakso, dan sayur sawi hijau disertai sedikit perasan jeruk nipis.

Ada dua tempat makan mie titi yang saya kunjungi, pertama mie titi perintis di jalan perintis, dan kedua adalah mie titi awa yang sudah memiliki banyak cabang yang tersebar di Makassar. Dari segi tempat dan tampilan penyajian makanan, mie titi perintis lebih unggul. Desain tempatnya modern minimalis membuat pengunjung betah berlama-lama disana. Begitupula tampilan mie titi yang ciamik. Namun dari segi cita rasa, mie titi awa lebih unggul. Aroma dan cita rempahnya lebih terasa. Hal menarik adalah mie titi awa dimasak di atas bara api sehingga bau asapnya menambah kekhasan rasa.
mie titi perintis

mie titi awa
Bagi penyuka pedas, mie titi cocok dimakan dengan tambahan sambel oranye dan sambel rawit khas makassar yang diberi air cuka. Tidak lupa tambahkan kecap (optional) dan dimakan panas. Kriuk kriuk.. Sungguh menggugah selera :D.

Rate:
Mie titi perintis: 3,5/5
Mie titi awa: 4/5

Senin, 15 September 2014

Dieng Plateau, Pesona Negeri di Atas Awan

Dieng Plateau adalah objek wisata unggulan kedua di Jawa Tengah. Mumpung saya masih di Yogyakarta, maka Agustus lalu saya dan teman-teman tertarik untuk mengunjungi dataran tinggi ini. Sebelumnya kami sudah prepare logistik makanan, pakaian hangat, syal, sarung tangan, kaos kaki, dan senter untuk penerangan. Tidak lupa kamera untuk mengabadikan momen-momen gila nantinya.. hihihi. Karena tidak berencana menginap, kami sudah menyusun rencana perjalanan (itinerary) yang diawali dengan mengejar sunrise di Gunung Sikunir.

a. Mengejar Sunrise di Puncak Gunung Sikunir

Saya dan 6 orang teman lainnya berangkat dari Yogyakarta pukul 10 malam dengan mobil pribadi. Mobil melaju dengan santai. Perjalanan Jogja menuju Wonosobo akan ditempuh sekitar 4 jam dan kami memilih jalur Magelang. Jam 2 pagi hawa dingin mulai terasa. Sepertinya kami sudah sampai di daerah dataran tinggi, Desa Sembungan, 2.350 m dpl. Jalan sudah mulai mendaki. Medan menuju kawasan sunrise di Puncak Sikunir terbilang penuh tantangan karena jalannya yang berbelok-belok dan sempit, hanya cukup buat 1 mobil. Selain itu di sisi jalan ada jurang yang curam dan di sisi lainnya terdapat bukit berbatuan. Suasanan ini ditambah dengan tidak adanya lampu jalan. What a life!! XD

Jam 3 pagi akhirnya kami sampai di parkiran menuju lokasi trekking. Karena perjalanan yang cukup aduhai alamak, kami tepar dan ketiduran di mobil sampe pukul 4 pagi. Setelah makan dan minum secukupnya, kami keluar menghirup udara Dieng. Subhanallah segarnyaa... Ditambah bau pohon basah yang menyamankan indera penciuman saya. Perfect!! Rasa dingin karena suhu Dieng yang mencapai minus sekian derajat celcius menjadi tertutupi.

Ternyata trekking menuju puncak Sikunir cukup (lebih dari cukup maybe) menguras energi dan lemak-lemak di tubuh, keringetan, dan bikin napas ngos-ngosan mampus. Untung aja belakangan ini saya sering jogging di GSP, jadi ga kalah kuat ama temen-temen lain. Setelah sempat 3 kali istirahat di perjalanan, akhirnya jam 5 pagi kami sampai di Puncak Sikunir. Kami merasa seperti 'dewa-dewi' yang berdiri di atas awan.. Hahaha.. Kabut menyelimuti puncak, hawa dingin langsung menusuk tulang, saya terus bergerak ke sana sini agar tidak membeku. Brrrrr....

Akhirnya semburat jingga terlihat muncul malu-malu... Walaupun sebentar karena banyaknya kabut, tapi saya merasa sangat beruntung karena bisa menikmati munculnya sang Surya dari salah satu spot terbaik di dunia :D. Setelah puas foto-foto dan menikmati alam ciptaan Tuhan yang begitu mempesona, kami turun gunung dengan santai disertai gelak tawa. Sekitar jam 6 pagi kami sampai di halaman parkir mobil dan meluncur menuju telaga warna.

Sunrise dari puncak sikunir

Perjalanan menuruni puncak
lereng puncak sikunir


b. Telaga Warna

Perjalanan menuju telaga warna ditempuh selama lebih kurang 15 menit. Sampai di sana, kami disambut dengan suasana telaga yang tenang dan bau belerang yang semerbak. Salah seorang teman sampai muntah-muntah dan memutuskan istirahat di mobil. Telaga warna memiliki keunikan berupa warna permukaan berubah-ubah dari  hijau, kebiruan, dan putih yang merupakan refleksi endapan belerang di dalamnya. Ketika sampai di pinggir telaga, perbedaan warna telaga belum begitu tampak sehingga kami memutuskan mencari spot terbaik untuk melihat telaga secara keseluruhan. Setelah keliling muter-muter akhirnya kami menemukan jalan trekking menuju Bukit Ratapan. Kabarnya ini adalah gardu pandang terbaik untuk melihat pesona telaga warna.

Perjalanan trekking memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah ngos-ngosan setengah mati, Eng ing eng... apakah kami sedang berada di surga??? Sungguh pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Kali ini 'dewa-dewi' sedang menikmati pemandangan luar biasa di atas bukit. Pesona telaga warna-warni dikelilingi oleh hutan dan bukit yang masih asri. Udara yang sejuk disertai awan putih menambah syahdu suasana.

telaga warna dari bukit ratapan
telaga warna

c. Candi Arjuna

Setelah kenyang berfoto dan menjadi 'dewa-dewi' sehari (HAHAHA) kami turun bukit dan melanjutkan perjalanan menuju wisata sejarah. YUP, candi arjuna!! lokasinya tidak begitu jauh, 5 menit menggunakan kendaraan bermotor. Candi ini adalah bangunan batu peninggalan Hindu Syiwa ratusan tahun yang lalu yang konon dibangun atas perintah raja-raja dari Wangga Sanjaya. Komplek candi tidak seluas komplek candi Prambanan, begitupun dengan ukuran candi yang relatif mungil. Kelebihannya adalah suasana yang sejuk, dengan hamparan rumput hijau dan latar belakang bukit yang indah.

candi arjuna

d. Mie Ongklok

Puas menikmati sisa-sisa peradaban masa lalu, perut mulai terasa lapar. Akhirnya kami meluncur menuju tempat makan mie ongklok. Mie ongklok adalah mie khas yang cuma bisa ditemui di Dieng Plateau. Terdiri dari mie kuning bersama sayur kubis dan kucai mentah yang dimasukkan ke dalam semacam saringan dari bambu dan di"ongklok-ongklok" atau dicelupkan berkali-kali ke dalam air mendidih. Mie dan sayuran ditata dalam mangkuk dan disiram dengan kuah khas yang kental berwarna kecoklatan. Kurang lengkap rasanya menyantap mie ongklok tanpa sate ayam dengan kuah kacang.. NYAM NYAM..

mie ongklok
Mie ongklok panas dan teh panas langsung masuk mulut dan perut tanpa ditiup sedikitpun _Saking dinginnya suhu dataran tinggi ini. Selang beberapa menit, mie ongklok dan sate langsung habis bis! haha itu laper apa kalap coy?? Watever yang pasti rasanya enak dan beda dengan mie-mie lainnya. Porsinya juga pas. Siangnya setelah azan zuhur kami meluncur pulang ke Yogyakarta dengan senyum terkembang membawa pengalaman yang sangat istimewa, Sungguh perjalanan yang luar biasa... :D

TIPS
  1. Karena suhu di Dieng yang sangat dingin, jangan pernah ke sana tanpa menggunakan pakaian berlapis-lapis dan jaket hangat serta sarung tangan.
  2. Jika belum pernah ke Dieng, sebaiknya gunakan jasa tour guide biar tidak nyasar kemana-mana.
  3. Waktu terbaik melihat sunrise dari Puncak Sikunir adalah musim kemarau (Juli - Agustus) saat langit jernih dan jarang turun hujan.
  4. Jika ingin trekking, sebaiknya tubuh dalam kondisi fit disertai makan dan tidur yang cukup serta olahraga teratur sebelum berangkat.
  5. Jangan lupa berdoa :D

Selasa, 19 Agustus 2014

One Day Tour Yogyakarta: Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, dan Pantai Parangtritis

Minggu ini senang sekali. Selain saya mau wisuda kelulusan dari UGM, keluarga saya datang berkunjung ke Kota Istimewa ini: Yogyakarta. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, saya langsung bikin itinerary jalan-jalan (dasar otaknya jalan mulu, hehe). Kali ini saya mau cerita one day tour Jogja kami di hari ketiga setelah acara wisuda saya. Jadwal hari itu adalah mengunjungi Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, dan Alun-Alun Kidul.

Jam 8 pagi setelah sarapan di penginapan, kami langsung meluncur ke prambanan menggunakan mobil rental plus supir, jadi dijamin tidak nyasar :D. Waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat kota. Jalan tidak begitu macet karena masih pagi. Sampai di Kawasan Prambanan, kami langsung beli tiket paket ke Candi Prambanan sekalian ke keraton ratu boko, HTM nya rp 45.000/orang. Kami memilih ke keraton ratu boko dulu baru ke candi prambanan. Jadi pas masuk kawasan prambanan, langsung ke sebelah kiri menuju shelter minibus wisata menuju keraton ratu boko. Perjalanan menuju daerah dataran tinggi 196 meter dari permukaan laut ini ditempuh sekitar 20 menit.

Keraton ratu boko adalah kompleks istana megah yang dibangun pada abad ke-8 oleh salah satu kerabat pendiri Borobudur. Keraton ini awalnya bernama Abhayagiri Vihara (biara di bukit yang penuh kedamaian) dibangun untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Pemandangan di sini sungguh indah, padang rumput hijau, dengan latar langit biru dan awan putih. pada musim panas, rumputnya berubah jadi kekuningan karena panasnya matahari. Dari sini kita bisa melihat kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar gunung merapi. Spot terbaik adalah di halaman Restoran Ratu boko di dekat shelter.

Kawasan keraton ini cukup luas, sekitar 250.000 meter persegi. Wajarlah ya, kaki pegel-pegel kalau mau muterin semuanya. Terbagi menjadi empat bagian: tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, candi pembakaran, kolam, batu berumpak, dan paseban. Bagian tenggara meliputi pendopo, balai-balai, 3 candi, kolam, dan kompleks keputren. Bagian timur adalah kompleks gua, stupa buddha, dan kolam. Bagian barat hanya terdiri dari perbukitan. Saya dan keluarga cuma sempat muterin bagian tengah dan tenggara karena ga sanggup jalan lagi dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Nyiapin energi buat muterin prambanan yang tidak kalah luas. Saatnya kembali ke Prambanan.



Kami menuju prambanan menaiki minibus yang selalu tersedia di shelter depan pintu masuk keraton ratu boko. Sampai di kawasan prambanan, kami langsung mengunjungi candi hindu yang dibangun pada abad ke -10 ini. Candi Prambanan memiliki 3 candi utama yang menghadap ke timur, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi ini adalah lambing trimurti dalam kepercayaan hindu. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu.

Seperti biasa sebelum memasuki kawasan suci ini seluruh pengunjung perlu memakai sarung batik yang sudah tersedia. Selain candi-candi, di kawasan prambanan juga terdapat beberapa museum dan taman dolanan untuk bermain anak. Ada sepeda wisata untuk berkeliling kompleks. Selain itu ada taman rusa juga lo.. Setelah hampir 2 jam mengelilingi lokasi wisata yang sangat bersih ini, perut kami mulai lapar. Saatnya meluncur keluar menuju tempat makan.




Kali ini saya mau ajak keluarga ke restoran Sendang Ayu, lokasinya di jl. Adi Sucipto. Khasnya restoran ini adalah halamannya yang luas dan memiliki kolam ikan yang besar. Untuk mencapai tempat makan, kami harus menyeberangi kolam menggunakan perahu khusus. Tentu saja makanan khasnya adalah ikan bakar. Selamat Makan…. Enak dan nyaman, reccomended buat kumpul keluarga!!



Setelah makan dan solat di musola resto sendang ayu, kami memutuskan untuk mengejar sunset di pantai parangtritis. Agak nekat sih, soalnya udah jam 4 sore dan waktu tempuh ke pantai parantritis sekitar 2 jam. Namun karena tekad sudah bulat, akhirnya maju terus pantang mundur.. Beruntung jam setengah enam-an kami sampai di pantainya nyi roro kidul ini. Thanks God!! Sunset di parangtritis adalah salah satu yang terbaik menurut saya. Matahari yang pelan-pelan bersembunyi di balik awan dan menghilang di garis laut, ditemani deburan ombak yang cukup besar. Romantis..


Kami melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja setelah solat magrib di masjid. Saya mau mengajak keluarga menikmati suasana khas di alun-alun kidul. Di sini kami bisa menikmati jajanan seperti gudeg dan wedang ronde. Pengunjung juga dapat menggunakan sepeda yang penuh lampu warna-warni mengelilingi alun-alun kebanggaan warga Jogja ini. Sepeda ini ada yang roda dua dan roda empat menyerupai becak. Selain hiasan kelap-kelip lampunya yang warna-warni, full music juga lo.. cukup bayar sekitaran rp 20.000 untuk satu kali putaran. Gowes-gowes malam hari nih ceritanya… a.k.a olahraga malam :D


Wisata hari ini sungguh menyenangkan. Selain bisa menghabiskan waktu bersama orang tersayang, wisata jogja memang tidak ada matinya. Mereka mampu menonjolkan keunikan budaya, kebersihan, dan keramahan masyarakatnya.

Tips:
  1. Sebaiknya mengunjungi prambanan dan ratuboko pada pagi hari, biar puas menjelajahi kedua objek wisata yang luas ini 
  2. Jangan lupa bawa topi dan payung, karena panas banget, apalagi kawasan ratuboko di siang hari 
  3. Sebaiknya tubuh dalam kondisi fit karena perjalanan di sekitaran prambanan dan ratuboko sangat panjang dan harus ditempuh dengan jalan kaki 
  4. Berpakaian yang sopan dan wajar karena mengunjungi tempat suci 
  5. Waktu terbaik mengunjungi parangtritis adalah pada siang hari (jika ingin bermain aneka wahana pantai) dan sore hari (jika ingin melihat sunset)

One Day Tour Yogyakarta: Pantai Indrayanti dan Bakpia Kurnia Sari

Masih dalam rangka menyambut kedatangan keluarga tercinta tersayang dan tersegalanya di Jogja, saya mau jalan lagi nih. Kali ini ke pantai kawasan Gunung Kidul yang terkenal dengan pasir putih dan batu karang yang menawan. Jam 8 kami sudah mulai jalan dari hotel, saya sengaja ajakin keluarga sarapan di tempat sarapan favorit saya, namanya Warung Flamboyan. Lokasinya di jl. Flamboyan, sekitaran Fakultas Teknik UNY. Penyajian makanannya prasmanan dengan menu yang sangat komplit-plit!! Ada nasi merah dan aneka sayuran sehat, hingga lauk pauk khas nusantara. Favorit saya adalah nasi merah dan brokoli. Suasananya cukup cozy dengan iringan alunan musik.



Setelah kenyang, kami langsung on the way ke Gunung Kidul. Alamaak jalanan macetnya ampun, ternyata ada perbaikan jalan sehingga yang sebelumnya dua jalur sekarang cuma bisa 1 jalur. Perjalanan yang biasanya 2 jam molor jadi 3 jam. Jam 12 kami sampai Pantai Indrayanti, salah satu pantai andalan di Gunung Kidul. Bapak supir kami jago juga memilih tempat yang nyaman dan private, dekat resort yang memiliki banyak pondok gazebo untuk bersantai, cukup bayar rp 25.000 per pondok. Kami bisa tidur-tiduran santai menikmati deburan ombak disertai langit biru dan awan putih. Subhanallah.. Sayang rasanya tidak mengebadikan momen istimewa ini. Let’s Pose!!


Ternyata di dekat sini ada gardu pandang, kami cukup naik tangga menuju bukit dengan tinggi sekitar 3 meter, dari sana kami bisa melihat pantai yang terbantang luas… Sungguh menawan!! Di bukit ini juga menyediakan pondok untuk beristirahat dan taman mungil beserta jembatan yang sangat sayang kalau tidak digunakan buat foto-foto, hehe. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Mari kita pulang.. Perjalanan ke Jogja ditempuh sekitar 2 jam. Alhamdulillah tidak macet lagi.


Jam 6 sore kami sampai Jogja, langsung menuju pusat oleh-oleh. Saya mengajak keluarga ke pusat oleh-oleh Bakpia Kurnia Sari. Namanya mungkin agak asing tidak sepopuler bakpia pathok 125 dan semacamnya. Namun soal rasa bisa diadu, kulitnya lebih tipis namun lembut, diameter lebih besar, dan isinya terasa asli keju/kacang ijo/cokelat dll. Bener-bener lezatos. Favorit saya adalah isi keju, awetnya sekitar 1 minggu. Harganya lebih mahal dari bakpia biasanya, isi 15 rp 28.500 dan isi 20 rp 38.000. Lokasinya di Pogung lor, ring road utara.


Wisata hari ini diakhiri dengan makan malam di warung favorit saya dengan ciri khas sambel yang almost puedes, Warung Spesial Sambel (SS) Jogja :D. Favorit saya adalah jamur tiram crispy. Puas sekali hari ini jalan-jalan menikmati keindahan alam bersama keluarga tercinta. Reccomended buat yang mau jalan-jalan bersama keluarga.
Tips:
  1. Sebaiknya ke pantai indrayanti tidak waktu weekend, almost full
  2. Waktu terbaik mengunjungi pantai gunung kidul adalah pas pagi dan siang hari waktu langit biru
  3. Jangan lupa bawa topi, kacamata, dan pakaian yang ringan dan berwarna cerah ya..